Filsafat berasal dari kata philo
(cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Namun, tidak sesederhana itu untuk
mendefinisikan filsafat sebagai mencintai kebijaksanaan. Phytagoras pernah
ditanya, apakah dia bijak (sophos)? Dia menjawab, saya bukan bijak melainkan
philosophos (pecinta kebijaksanaan). Filsafat bukanlah kebijaksanaan itu
sendiri melainkan suatu cara mengapresiasi kebijaksanaan. Ada jarak yang
diambil oleh filsafat terhadap kebijaksanaan. Namun begitu, filsafat selalu
menghasrati kebijaksanaan. Seorang filsuf bukanlah orang yang tahu segalanya
melainkan orang yang selalu mempertanyakan kembali apa yang telah diketahuinya.
Filsafat tidak pernah mengklaim suatu jawaban final dan total, meski hasratnya
adalah demikian. Filsafat merupakan suatu proses yang terus menerus, selalu
mencari dan menguji setiap pengetahuan yang telah di dapat. Proses filsafat
diawali dari ketakjuban akan realitas, yang kemudian memunculkan keraguan atas
apa yang kita ketahui selama ini tentang realitas. Keraguan itu membuat kita
bertanya dan kembali mempertanyakan setiap jawaban yang muncul. Pengetahuan
terus diuji, menggali terus ke makna terdalam. Filsafat seperti membuka lapisan
demi lapisan selubung yang tidak tahu kapan sampai pada lapisan terakhir.
Filsafat mencoba mengeksplisitkan realitas, mengangkat sesuatu yang tidak
disadari ke aras kesadaran. Realitas yang kabur diterangi sehingga lebih jelas.
Namun, upaya tersebut tetap tak mampu mengiringi realitas yang begitu luas,
sehingga filsafat tak pernah usai dalam usahanya menggapai ujung realitas.
No comments:
Post a Comment